Mother&Baby Indonesia
Diagnosis Autis Harus Akurat

Diagnosis Autis Harus Akurat

Banyak keadaan yang secara klinis menunjukkan gejala-gejala autisme, tetapi ternyata bukan termasuk autisme. Padahal, diagnosis yang keliru dapat berakibat tidak tepatnya penanganan seorang penyandang autis. Tidak hanya pada bentuk terapinya, tetapi juga pada prognosis atau penanganan jangka panjangnya.

 

Dokter Purboyo Solek, Sp.A (K), Konsultan Neuropediatri dari Asosiasi Disleksia Indonesia menegaskan, diagnosis yang akurat pada anak autis sangat dibutuhkan agar mereka mendapatkan penanganan yang tepat. “Mengingat banyak kasus yang mirip autisme, jadi perlu pengalaman dalam melihat berbagai macam kasus. Dalam hal ini orangtua harus lebih jeli, karena tidak ada marker pemeriksaan dari laboratorium untuk mendeteksi autisme,” ungkapnya dalam seminar media tadi siang (30/04). 



 

Kesalahan diagnosis yang banyak dijumpai sebagai autisme, di antaranya gangguan komunikasi, gangguan pendengaran atau anak yang tidak merespon saat dipanggil, anak yang berperilaku aneh, seperti kebiasaan  gigit jari, melihat jari berlama-lama, mencium benda yang digenggamnya. Austisme bukan seperti penyakit yang bisa diobati, melainkan kelainan perkembangan. Dibutuhkan treatment yang cukup lama dan bertahap untuk menanganinya.

 



Bentuk kelainan perkembangan pada kelompok ini ada 3, yaitu gangguan komunikasi dan interaksi, gangguan perilaku maladaptif, serta repetitif. “Gangguan komunikasi seperti terlambat bicara. Gangguan perilaku aneh, seperti suka berputar, loncat-loncat, jalan-jalan terus. Ada juga kebiasaan suka mengulang-ulang, bisa bentuk ucapan atau gerak. Berbeda lagi dengan down syndrome yang terjadi karena adanya kelainan kromosom,” lanjutnya.

 

Pada autisme, jika kita ukur IQ-nya sebagian besar ada di posisi angka 50-60. Jika diintervensi lebih dini, angkanya pun bisa meningkat. Itu sebabnya, penyandang autisme ini sebenarnya bisa bekerja dengan baik. “Pemerintah, tempat terapi, atau siapa pun diharapkan dapat memahami bahwa autisme dan yang mirip dengan autisme itu tidak sama. Sehingga mereka bisa dibuatkan perencanaan, entah untuk sekolah atau bekerja, bila diagnosisnya dilakukan secara matang,” tutupnya. (Aulia/DC/dok.M&B)



Tags: anak,   autis,   rett disorder,   asperger,   down syndrome,   orangtua